Templates by BIGtheme NET
Rumah » informasi » Revitalisasi Kearifan Lokal Mencegah Radikalisme
Kearifan Lokal Mencegah Radikalisme
Kearifan Lokal Mencegah Radikalisme

Revitalisasi Kearifan Lokal Mencegah Radikalisme

Pada pertengahan Tahun 2011, Tim BNPT memenuhi undangan Nanyang Technological University Singapura. Tim diterima Prof. Rohan Gunaratna, Head of International Center for Political Violence and Terrorism Research. Singapura adalah salah satu negara yang sangat memperhatikan keamanan negara dari ancaman aksi terorisme, dimana pemerintah bersama masyarakatnya bersinergi melawan ancaman terorisme, termasuk dengan kalangan akademisi. Sebagai buktinya di Nanyang Technological University dibentuk lembaga pusat riset Internasional untuk korban politik dan terorisme yang diketuai oleh Prof Rohan Gunaratna.

Dalam sambutan penerimaannya, beliau memaparkan banyak strategi kontra radikalisme bagi napi terorisme, di antaranya adalah pendekatan psikologis, kekeluargaan, kewirausahaan, keagamaan dan pendekatan budaya atau kearifan lokal. Semua pendekatan itu memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing, tetapi ungkap beliau, untuk Napi teroris di Indonesia lebih awal dilakukan pendekatan kearifan lokal. Sebab Indonesia memiliki beraneka ragam budaya, narapidana terorisme berasal dari daerah yang berbeda, tentu mereka memiliki kearifan lokal yang berbeda pula.

Setelah kembali ke Indonesia, kami merancang masukan dari Prof. Rohan, yakni pendekatan budaya bagi narapidana terorisme yang ditahan di lapas Porong Surabaya. Langkah pertama yang kami putuskan adalah menentukan budaya apa yang tepat dimainkan dalam lapas di depan para napi terorisme yang mendekam di Lapas Porong Surabaya itu, karena di lapas itulah banyak Napi Terrorisme ditahan. Kami memutuskan untuk menayangkan wayang kulit, kendalanya adalah adakah seorang dalang yang menguasai ilmu agama ? Sebab napi terorisme memiliki pemahaman keagamaan yang sangat terbatas. karenanya, selain penayangan wayang kulit sebagai hiburan bagi mereka, perlu juga diselipkan pemahaman keagamaan yang komprehensif agar para napi terorisme mendapat masukan pemahaman tentang Islam dari sisi yang berbeda.

Setelah menemukan orang yang tepat dan ahli dalam memainkan wayang kulit dengan sisipan dasar keilmuan Islam yang memadai, kami melaksanakan program tersebut di lapas porong Sidoarjo Surabaya. Kami melakukan kegiatan tersebut sebagai program pertama sejak BNPT resmi dibentuk. Dengan penuh optimisme kami melangkah dengan pasti memasuki lapas Porong dengan program rehabilitasi bagi Napi terorisme dengan pendekatan budaya. Penayangan wayang kulit di depan para narapidana terorisme ditambah dengan narapidana lainnya yang berjumlah 200 orang berhasil menghibur para napi yang haus akan hiburan.

Setelah acara selesai, para napi terorisme berkumpul di depan blok mereka dan meminta disiapkan waktu untuk berdialog antara BNPT, Lapas dan WBP Terorisme. Dialog berlangsung lancar, intinya mereka mencurahkan hati mereka kepada BNPT dan Kepala lembaga pemasyarakatan. Mereka merasakan ketidakadilan dalam putusan yang dijatuhkan pengadilan kepada mereka, alasannya simple, aksi mereka terjadi di tahun 2002 yaitu, konflik komunal antara penganut agama, namun mereka divonis dengan undang-undang terorisme tahun 2003. Demikianlah sepintas curahan hati mereka. Penyelesaian curahan hati mereka tentu tidak serta merta disimpulkan, tetapi harus melalui proses hukum yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.

Kembali kepada peran kearifan lokal dalam mencegah terorisme, kearifan lokal dipahami sebagai gagasan-gagasan, nilai-nilai, dan pandangan setempat yang bersifat bijaksana, penuh kearifan dan bernilai baik yang tertanam dan diikuti oleh anggota masyarakat. Dalam disiplin Antropology dikenal istilah local genius, dikenalkan pertama kali oleh Quaritsh Wales. Para antropolog membahas secara panjang lebar pengertian local genius ini. Antara lain Haryati Soebadio yang menyatakan bahwa local genius adalah juga cultural identity, identitas/kepribadian budaya bangsa yang menyebabkan bangsa tersebut mampu menyerap dan mengulas kebudayaan asing sesuai watak dan kemampuan sendiri.

Beliau menjelaskan ciri yang dimiliki local genius, yakni; mampu bertahan terhadap budaya luar; memiliki kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; mempunyai kemampuan menginternalisasi unsur budaya luar ke dalam budaya asli; mempunyai kemampuan mengendalikan; dan mampu memberi arah pada perkembangan budaya.

Lunturnya identitas lokal yang melanda generasi muda belakang ini dituding sebagai salah satu faktor pemicu radikalisme. Lunturnya identitas lokal menyebabkan kekosongan nilai yang dianut, sehingga paham radikal mulai mengisi kekosongan tersebut. Sekarang ini budaya lokal negeri kita sendiri sudah banyak yang terkikis, yang memberi ruang lebih kepada sikap radikalisme untuk tumbuh secara subur. Selain lunturnya nilai-nilai budaya lokal, faktor lain yang memicu radikalisme adalah tersumbatnya komunikasi antara penguasa dan rakyat.

Menurut Sultan sepuh Keraton Kasepuhan PRA Arief Natadiningrat, generasi muda saat ini sudah banyak melupakan nilai-nilai dan kearifan lokal yang diwariskan para pedahulu kita, banyak petatah petitih Sunan Gunung Jati yang bisa menjadi acuan dalam mengembangkan karakter bangsa. Di antaranya, yang mengajarkan kearifan seperti, angsana diri (mawas diri), ang adohana ing perpadu (jauhi pertengkaran), dan singkirkan sifat kanden wanci (jauhi sifat yang tidak baik).

Pertimbangan bahwa kearifan lokal budaya Jawa memiliki kandungan nilai-nilai kebenaran, nilai kebaikan, nilai yang dapat memperkaya rasa keadilan, kemampuan bertanggung jawab, kemandirian, kerukunan, keteladanan serta budi pekerti. Nilai-nilai tersebut memang digali dari potensi budaya Jawa yang bersifat lokal, tetapi nilai-nilai tersebut universal, sehingga dapat dijadikan nilai-nilai umum dan dapat digunakan oleh siapa, di mana dan kapan saja.

Maraknya radikalisme di Indonesia dinilai makin mengkhawatirkan, bahkan berada di zona merah atau sangat perlu diwaspadai. Upaya kongkrit perlu dilakukan salah satunya melakukan revitalisasi terhadap kearifan lokal agar benih-benih radikalisme dan terorisme tidak melanda generasi muda. Setiap tahun hari Sumpah pemuda diperingati, namun perlu pula kita sama-sama bersumpah mengikis habis pengaruh radikalisme dan terorisme.

Tentang Irfan Idris

Irfan Idris
Alumnus salah satu pesantren di Sulawesi Selatan, concern di bidang Syariah sejak jenjang Strata 1 hingga 3, meraih penghargaan dari presiden Republik Indonesia pada tahun 2008 sebagai Guru Besar dalam bidang Politik Islam di Universitas Islam Negeri Alauddin, Makasar. Saat ini menjabat sebagai Direktur Deradikalisasi BNPT.